Thursday, April 17, 2008

Cerpen: Sinetron

Sinetron


Matahari di atas dusun Mergangsan terlihat pucat. Sinarnya sangat terik seperti puncak musim kemarau, padahal sekarang masih bulan April. Bertolak belakang dengan cuaca di luar, Tiwi duduk sambil menggigil kedinginan di ruang tamu. Kaos putihnya yang sudah lusuh dan sobek-sobek basah kuyup oleh keringat. Kelihatan seperti habis berendam di kali yang mengalir di belakang rumah. Tangannya memeluk erat kedua kaki yang ditekuk di depan dadanya. Mulutnya terus merancau; bergumam lirih yang hampir tidak terdengar. Orang yang melihatnya pasti menyangka bocah tanggung ini baru saja mengalami kejadian mengerikan.

Semenit kemudian Bu Warsito membuka pintu rumah. Keheranan dan ketakutan melihat anak satu-satunya yang seperti orang kesurupan. “Wi… kamu kenapa? Kamu ndak papa Wi?”. Nalurinya mengambil alih, tanpa pikir panjang segera memeluk mahluk tidak berdaya di depannya. Persis seperti induk ayam yang berusaha melindungi piyik dengan sayapnya.

Tapi Tiwi tetap diam, matanya tetap kosong menatap tembok ruang tamu yang catnya sudah mengelupas di sana sini. “Kamu kenapa Wi? Habis dimarahi guru di sekolah?”. Bu Warsito terdiam sebentar, pikirannya tidak setuju dengan ucapannya, karena dia tau Tiwi adalah anak pintar, kesayangan guru-guru. Tidak ada satupun guru di SMA Miri yang tidak kenal Tiwi; yang tidak mengakui kecerdasannya. Tidak mungkin Tiwi kena masalah di sekolah, begitu pikir Bu Warsito yang sekarang mengelus-elus punggung putrinya.

“Wi, kalo kamu kena masalah di sekolah, biar bapak yang ngomong sama gurumu. Kamu memang ndak akur sama bapakmu, tapi sebetulnya dia sayang sekali sama kamu. Bapakmu pasti bela kamu di depan gurumu”.

“Atau kamu habis dimarahi bapak?”. Bu Warsito terus mencari-cari kemungkinan penyebab keadaan anaknya. “Bapakmu ini lebih baik, lebih pengertian dibanding bapakmu yang dulu. Bapakmu yang dulu itu ndak tanggung jawab. Ndak perhatian sama keluarga”. Bu Warsito diam sejenak, mencoba meredakan emosinya yang hampir meledak dan kembali mengalihkan fokus kepada masalah anaknya.

“Paaak… kamu dimana? Ini lho anakmu…”. Bu Warsito perlahan-lahan melepas pelukannya dan bergegas pergi ke kamar depan, berharap menemukan suaminya di sana. Bu Warsito mengalihkan pencariannya ke kamar Tiwi yang terletak di bagian belakang rumah, tepat di sebelah dapur.


.....


“Paaaaaak…!!!! Ya Tuhan… Paaak…!!!”. Pemandangan yang ada di depannya kali ini ribuan kali lebih mengejutkan dibanding pemandangan yang dilihatnya 15 menit lalu. Pak Warsito tergeletak di depan pintu kamar anaknya, disamping sebatang balok kayu sebesar lengan orang dewasa. Badannya terlentang, lantai di sekitar kepalanya dibasahi darah. Tapi dadanya terlihat masih bergerak kembang-kempis, menandakan masih ada nafas.

Panik, perempuan 40 tahunan itu lari ke ruang tamu, berharap menemukan jawaban dari mulut anaknya. Tapi tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut Tiwi. Dia tetap diam, menggigil. Bu Warsito kembali berlari menuju suaminya, berjongkok dan mencoba membangunkan orang yang menikahinya dua tahun lalu. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, sambil matanya yang melihat kesana kemari, mengiba, berharap pertolongan dari entah siapa.

Seketika pandangannya tertuju ke arah tempat tidur anaknya lewat pintu yang sedikit terbuka. Cukup untuk memperlihatkan noda merah di atas tempat tidur anaknya. Dia meloncati tubuh yang tergeletak di depannya, segera memeriksa ke dalam. Yang dilihatnya di sana cuma kamar yang berantakan, bercak merah seperti darah di atas sprei tempat tidur anaknya, dan celana dalam biru milik Tiwi yang begitu dikenalinya.

Bu Warsito mematung, seperti orang yang mati berdiri. Kalaupun tubuhnya belum mati, hatinya sudah pasti mati dan yang ada di kepalanya cuma prasangka. Ibu yang biasanya lembut, kali ini terlihat lebih mengerikan dibanding orang kesurupan. “Bunuh… Bunuh…”. Cuma itu yang terpikir. Dan pisau cuma berjarak beberapa langkah di seberang kamar tempatnya berdiri.

Yang terjadi berikutnya mudah ditebak. Puluhan kali hujaman pisau dapur bersarang di dada, perut dan leher Pak Warsito. Air mata bu Warsito sudah bercampur darah suaminya. Kesedihan dan kemarahan sudah berbaur, tidak bisa dibedakan.


.....


Hari ini hari sabtu dan tiga hari sudah berlalu sejak kengerian yang terjadi di salah satu rumah di dusun Mergangsan. Tiwi ditemani bu Warsito duduk di tempatnya menggigil tiga hari lalu, asyik menonton sebuah sinetron yang begitu digandrunginya. Pintu rumah yang sedikit terbuka diketuk pelan. “Permisi bu War…”.

“Ooh, Bu RT, monggo Bu…”, bu Warsito sedikit gugup berdiri menyambut tetangganya.

“Bu War, saya mau buat kue, tapi kehabisan pewarna makanan. Bu War kan suka buat kue juga, masih punya pewarna makanan ndak?”.

“Oo.. oh, masih ada pewarna merah di dapur. Saya beli seminggu lalu, tapi belum pernah dipake. Sebentar ya bu, saya ambil dulu.”, bu Warsito berjalan cepat ke dapur, meninggalkan anaknya yang masih terpaku di depan televisi.

“Eh Wi, itu sinetron tentang anak psikopat itu kan? Yang ngeracuni bapaknya biar dapet warisan”, bu RT mencoba membuka pembicaraan.

“Inggih Bu”, Tiwi akhirnya bicara. Sementara bu Warsito baru saja menemukan botol kecil pewarna merah yang isinya tinggal setengah walaupun dia merasa belum pernah menggunakannya.

“Wiii, kamu pake pewarna makanan Ibu?”, bu Warsito setengah berteriak meminta penjelasan anaknya.

“Ndak Bu, aku ndak pernah pake”, Tiwi menjawab gugup. Bu Warsito teringat bercak merah yang dilihatnya tiga hari lalu di tempat tidur anaknya, tapi segera berusaha menghapus kecurigaan dari kepalanya.

“Bapakmu dimana Wi, dah beberapa hari ini aku ndak liat”, bu RT menunjukkan perhatiannya.

“Ndak tau bu, dia bukan bapak kandung saya… Saya kangen bapak kandung saya…”, Tiwi menimpali cepat dan sedikit ketus.

Melihat keadaan yang kurang mengenakkan, bu RT segera mengallihkan pembicaraan:”Psikopat itu apa tho artinya? Aku sering denger di TV, tapi ndak tau artinya”.

Tiwi cuma menjawab dengan senyuman kecil, sambil menoleh ke arah pekarangan samping rumah yang tanahnya mulai basah oleh gerimis di bulan April, mengubur tubuh yang terbujur kaku di bawahnya.

2 comments:

Senja said...

Sepertinya psikopatnya yang nulis nih ... keren banget mas!!! Mirip kaya ilmu filsafat, diputer puter gitu. Memang tulisan orang pintar lain dengan tulisan-tulisan biasa.

Bagus!!!!

Nur said...

hayoo tiwi... apa yang sudah kau lakukann. halo ndo :)